Kamis, 24 Februari 2011

Al-Ism Al-A'zham

Pada masa kekhilafahan “Ma’mun al-Rasyid” ada seorang pecinta Ahlul Bait-salam atasnya-yang hidup dalam kemiskinan dan memprihatinkan di kita Thus.

Begitu miskinnya, bahkan untuk menjalankan roda kehidupannya, beliau harus berhutang kepada penjual roti, minyak wangi, dan penjual kelontong. Setiap kali beliau ingin menyalamatkan diri dari kehancuran ini, beliau selalu berhadapan dengan jalan buntu. Hingga pada suatu hari, semua orang yang menghutanginya berkumpul di rumahnya untuk menagih hutangnya sambil berteriak-teriak. Para tetangga yang tahu apa yang terjadi, meminta mereka untuk tenang dan meminta waktu satu bulan agar si alim dapat membayar hutang-hutangnya. Akhirnya dengan terpaksa mereka pun menyetujuinya.

Keesokan harinya, si alim ingin meninggalkan kota Thus untuk menemui salah seorang saudaraya yang kaya raya. Di tengah-tengah peristiwa ini, datanglah seorang budak dan menyerahkan dua kantung emas milik tuannya sebagai amanat kepadanya dan berkata, “Tuan saya ingin berangkat haji; dia akan mengambil kembali amanat ini sepulangnya dari tanah suci.”

Karena si alim yang beriman itu adalah orang yang terpercaya, maka dia mengambil amanat tersebut dan menyembunyukannya di sebuah tempat yang sangat aman, bahkan dia tak member tahu istrinya. Dan ia pun melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di Neisyabur, dia tidak mendapatkan uang sepeserpun.

Dalam pada itu, sang istri mencari uang untuk membeli roti. Tiba-tiba, matanya tertuju pada dua kantung uang itu dan berkata, “Aneh, suamiku punya uang tapi berlagak tidak berduit, atau mungkin dia lupa akan hal ini.”

Kemudian, sang istri itu mengambil sedikit uang itu dan membayarkan kepada orang-orang yang menghutangi mereka, sekaligus membeli semua keperluan rumah tangga. Dengan begitu, dia dapat hidup tenang.

Ketika si alim kembali ke kotanya dan masuk ke rumahnya, dia melihat rumah itu penuh dengan kemewahan. Sang istri menyambutnya dengan hangat dan menjamunya seraya berkata, “Selamat kuucapkan untukmu, kenapa engkau tak mengatakan kalau dua kantung itu berisi emas? Gunakanlah emas itu sehingga kita bisa terbebas dari kegelisahan ini.”

Si alim berkata, “Kantung mana yang kau maksud?” Ketika dia mencari kantung itu di tempatnya, ternyata dia tidak mendapatkaya. Dia berkata, “Jangan-jangan kamu telah mengambil dua kantung emas ini! Ini amanat orang!” Karena sangat marah, dia jatuh pingsan. Orang-orang menyadarkannya. Kebetulan si budak itu datang meminta kembali dua kantung emas milik tuannya itu dan berkata, “Tuanku tak jadi menunaikan ibadah haji, tolong kembalikan amanat itu.”

Si alim mulai gelisah dan merasa tidak enak karena harga dirinya terancam. Dia pun tidak meminta waktu sehari untuk bisa mengembalikan amanat tersebut. Si alim berpikir dan berkata sendiri, “Tida tempat berlindung selain Allah yang Mahakasih.”

Ringkas cerita, hatinya melayang ke mana-mana dan dunia pun menjadi gelap di matanya. Dia bermunajat kepada Tuhannya di pertengahan malam dan dengan hati lirih dia berkata, “Ya Arhamar Rahimin, tolonglah daku.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia langsung menunggang kudanya dan pergi sesuai keinginan hatinya. Masih dalam keadaan seperti itu, dia terus berkata, “Ya Arhamar Rahimin…”

Tiba-tiba, dia mendengar suara dari arah belakang. Ketika melihatnya, ternyata dia adalah budak hitam yang memanggilnya, “Hai alim, kemarilah, tuanku mengharapkan kehadiranmu.” Si alim bertanya, “Siapakah tuanmu?” Si budak berkata, “Tuanku adalah Imam Ali bin Musa al-Ridha as.”

Si alim pun memenuhi panggilan beliau dan berkata, “Wahai putra Rasul, apa yang Anda butuhkan dariku.” Imam as berkata, “Ambillah empat kantung ini, karena engkau telah memohon perlindungan sebaik-baik Tempat Berlindung, dan ini adalah pemberian dan hadiah dari Allah, karena engkau telah memanggil-Nya dengan nama-Nya yang paling agung.”

Si alim berkata, “Imamku, dari manakah Anda tahu kalau saya berada dalam kesulitan besar dan nama ergaung Allah manakah yang telah saya ucapkan?”

Imam as berkata, “Dalam tidurku, aku diberitahukan bahwa, ‘Ada seseorang di antara hamba Kami di suatu tempat yang berada dalam keadaan gelisah dan dia memanggil-Ku dengan nama teragung-Ku; berikanlah empat kantung ini kepadanya sebagai hadiah.’ Dua kantung ini (harus) kau berikan kepada hamba Allah itu (yang telah menitipkan dua kantung padamu) dan dua kantung lainnya untuk kebutuhan anak-istrimu. Al-Ismul A’zham yang kau katakana adalah: Ya Arhamar Rahimin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar